MOMEN TERINDAH JANGAN BIARKAN PERGI

KEGIATAN 08 Juni 2021 129


Bismillah, alhamdulillah, Allahumma sholli ala Muhammad khotamul anbiya wal mursalin. Trima kasih Ya Allah, Engkau mudahkan kami menulis,  jadikanlah ini bagian dari amal sholeh kami. Amin

SABAR
Sabar itu hampir semua orang tahu. Kalau diucapkan begitu mudahnya bagi orang yang sehat dan dalam keadaan lapang. Namun belum tentu mudah bagi yang sedang di uji sakit dan dalam keadaan tidak lapang. Kebanyakan orang senang kepada orang yang memiliki sifat ini ( sabar). Melihat orangnya saja sudah SESUATU yang menyenangkan, apalagi bisa bergaul dengannya. Alangkah indahnya bila dia itu adalah orangtua kita, istri / suami kita, anak anak kita, sanak kerabat kita, guru guru kita, santri santri kita, teman teman kita, sahabat sahabat kita, bahkan Pemimpin pemimpin kita. Alangkah indahnya bila lingkungan tempat tinggal kita, lingkungan tempat bekerja kita, lingkungan sekolah dan lingkungan lingkungan yang ada adalah kumpulan orang orang sabar. Ya Allah Rohman Rohim, mudahkan kami semua menjadi orang orang yang sabar dan berikan kepada kami lingkungan yang penghuninya kebanyakan adalah orang orang yang sabar. Amin.

Sabar itu perintah Allah dan Allah selalu bersama dengan orang orang yang sabar. Sabar itu pula sebagai bukti nyata tingginya keimanan seseorang. Dimanapun dan kapanpun, sepanjang waktu dan sepanjang kehidupan kita didunia ini. Aktifitas atau amalan amalan memerlukan kesabaran dalam menjalaninya demi meraih kesuksesannya. Siapa saja  dan dimana saja serta apapun profesinya, mutlak memerlukan kesabaran. 

Lawannya sabar identik dengan
tidak sabaran,  
tergesa gesa, 
mudah menyerah, 
mudah mengeluh, 
tidak terimaan, 
tidak bisa kesentuh,
egois,
mau menang sendiri, 
mau enak sendiri, 
tidak siap kalah,
tidak mau kalah,  
tidak siap salah, 
tidak mau salah, 
belum bisa mengalah, 
putus asa,  
berprasangka buruk 
dan sifat sifat, tabiat, perangai, maupun karakter karakter  buruk yang lainnya yang bisa menandakan bahwa seseorang itu belum bisa bersabar.

Bagaimana dengan diri kita? Apakah banyak kriteria belum sabar yang ada pada diri kita? Apakah kita sudah termasuk dalam kategori orang orang yang bersabar? insyaallah  dengan niat semata mata karena Allah dan ikhtiyar yang maksimal dan diikuti dengan tawakkal kepada Allah, Allah akan mudahkan kita menjadi orang orang yang bersabar. Amin.

SAMAHAH
Samahah itu memudahkan. Sesuatu yang mudah ya tetap mudah, sesuatu yang sulit, dimudahkan. Sesuatu yang ringan ya tetap ringan, sesuatu yang berat, diringankan. Inilah sifat yang disenangi oleh setiap  orang. Lapang dada, mudah minta maaf dan mudah memaafkan. Suasana ini bisa kita lihat saat lebaran. Banyak orang menjadikan lebaran sebagai momen untuk saling memaafkan. Berlomba lomba minta maaf kepada orang lain dan berlomba lomba untuk mudah memaafkan kesalahan orang lain. Indah benar momen ini, menyejukkan pandangan,  meneduhkan pikiran dan menentramkan hati banyak orang. Momen lebaran ini umumnya terjadi  hanya beberapa hari. Di momen ini banyak orang yang menggunakan dan memanfaatkan sebaik baiknya dan ada pula yang belum. No problem, tidak masalah dan tidak menjadi masalah.
Yang jadi masalah bila momen ini dilakukan hanya sekedar formalitas atau dilakukan setengah hati.
Baik momen saling memaafkan ini dilakukan secara langsung bertemu, ataupun melalui media.

Apakah permintaan maaf yang kita lakukan di momen lebaran sepenuh hati, setengah hati atau formalitas?

Apakah memaafkan yang kita lakukan di momen lebaran sepenuh hati, setengah hati atau formalitas?

Mari kita renungkan bersama.

SEPENUH HATI 
bila kita lakukan karena Allah, saat kita  minta maaf kepada orang lain karena kita merasa ada salah kepadanya dan orang lain itupun memaaafkan kita, maka salah kita dihapus oleh Allah. Baik minta maaf secara bertemu langsung ataupun melalui media. Yang terjadi berangsur angsur tidak ada perasaan bersalah lagi kepadanya, 

tidak mengingat ingat lagi kesalahan kesalahan yang pernah kita lakukan kepadanya karena sudah dimaafkan olehnya. Inilah permintaan maaf yang tulus dan ikhlas yang dilakukan dari hati karena Allah. Allah lah yang memerintahkan untuk melakukan ini. Kesalahan benar benar terhapus, hilang dan tidak terlihat lagi. insya Allah.

Begitupula saat kita memaafkan orang lain karena Allah, maka kesalahan orang lain itu dihapus oleh Allah. Kita berangsur angsur tidak merasa lagi bahwa dia ada salah pada kita. Kita tidak mengingat ingat lagi kesalahan dia yang pernah dilakukan kepada kita. Karena kita sudah memaafkannya.
Inilah memaafkan yang tulus dan ikhlas yang dilakukan dari hati karena Àllah. Allah lah yang memerintahkan untuk melakukan ini. Kesalahan benar benar terhapus, hilang dan tidak terlihat lagi. insya Allah.

SETENGAH HATI
Meminta maaf ataupun memaafkan setengah setengah. Tulusnya kurang,  ikhlasnya kurang. Tulus sih tulus tapi kurang. ikhlas sih ikhlas tapi kurang. Di mulut berkata minta maaf, di mulut berkata memaafkan tapi di dalam hati masih belum sepenuhnya minta maaf atau memaafkan. Dengan tangannya dia menulis minta maaf, dengan tangannya pula dia menulis memaafkan tapi di dalam hatinya masih belum sepenuhnya minta maaf atau memaafkan. 
Ini bisa terlihat  oleh kita sendiri maupun orang lain dan ini juga bisa kita rasakan sendiri dan bisa dirasakan pula oleh orang lain. Kok bisa? Bisa saja karena omongan kita dan tingkah laku kita terlihat setelah terjadi minta maaf, atau memaafkan atau saling memaafkan.

Pendek kata, saat kita bersalah kepada orang lain dan kita sudah minta maaf kepadanya tapi rasa salah kita kepadanya masih terus ada, masih teringat ingat selalu dalam benak kita bahkan masih menjadi kendala atau ganjalan kita dalam bermuamalah  atau bergaul dengan dia.

Begitu pula saat kita memaafkan kesalahan orang lain. Setelah kita memaafkan , kesalahan orang itu tetap masih ada di benak kita, masih selalu jadi ingatan kita bahkan masih jadi kendala atau ganjalan kita saat kita bergaul dengannya atau bermuamalah dengannya. 
Jadi permintaan maaf belum terhapus sepenuhnya, masih ada yang tertinggal. Memaafkan pun belum menghapus sepenuhnya, masih ada yang tertinggal. Ini karena dilakukan dengan setengah hati. 

FORMALITAS
Insya Allah ini sudah bisa dipahami dan dimengerti. Tidak masuk kategori sepenuh hati apalagi setengah hati. Pendek kata, yang penting lebaran, sudah ngucapin mohon maaf lahir batin, sudah ngirim tulisan atau gambar, seperti orang pada umumnya, ya ikut saja. Kalau momen nya sudah habis, ya habis pula. Gak urusan tulus, ikhlas, yang penting sudah mengadakan lebaran. Bersilaturrahim, Berjabat tangan. Kesalahan diri tetap ada, dan kesalahan orang lain kepada dirinya tetap ada. Tidak ngeffek dan tidak berdampak.

 
Ya Allah Rohman Rohim, mudahkan kami semua melakukan minta maaf sepenuh hati karenaMU. 

Ya Allah Rohman Rohim, mudahkan kami semua dalam memaafkan orang lain dengan sepenuh hati karenaMU.

Ya Allah Rohman Rohim, jadikan kami semua menjadi orang orang yang memiliki sifat sabar dan samahah sepanjang hidup kami.  Amin.

 

by.Idriselumda